Selasa, 27 Maret 2012

aku untuk ayah

Zara adalah gadis desa yang cantik dan pintar. Dia tinggal di sebuah rumah yang sederhana bersama ayahnya, ibunya sudah meninggal semenjak dua tahun yang lalu karena sakit yang dideritanya.

Hari ini adalah hari pertama Zara duduk di kelas 3 SMA. Zara ingin sekali meneruskan kuliahnya di luar negeri. Namun rasa ingin itu hanya dapat dia simpan di dalam hatinya, karena faktor ekonomi. Ayah Zara yang hanya bekerja sebagai pedagang buah di pasar, tidak mampu untuk membiayai sekolah Zara sampai ke luar negeri. Zara bersekolah di SMA negeri di dekat rumahnya, dia dikenal sebagai siswi yang berprestasi. Sering kali dia menjadi juara satu di kelasnya.

Mata Zara tidak berhenti melihat ke papan pengumuman. Dilihatnya selembaran kertas yang berisi pengumuman lomba olimpiade matematika tingkat nasional. Melihat berita tersebut, Zara langsung mendatangi wali kelasnya untuk mendapatkan informasi lebih jelas. Zara ingin sekali mengikuti lomba itu.

Setelah Zara mendatangi wali kelasnya dan mendapatkan beberapa informasi, dia langsung mendaftarkan dirinya untuk mengikuti olimpiade tersebut. "Kapan olimpiade-nya aka diadakan bu?" tanya Zarra ke bu Retno wali kelasnya. "Sekitar 3 minggu lagi Zara, ibu harap kamu dapat memenangkan olimpiade itu" jawab bu Retno. "Iya bu, saya akan berusaha untuk memenangkan olimpiade tersebut" ucap Zara optimis.

Sepulang sekolah, Zara mengabarkan berita tadi di sekolah kepada ayahnya. "Ayah, Zara mau ikut olimpiade matematika tingkat nasional" ucap Zara kepada ayahnya yang sedang duduk di depannya. "Wah, bagus itu. Kalau begitu kamu harus rajin berlatih supaya menang" jawab ayah, sambil mengusap lembut kepala putrinya itu. "Rencananya olimpiade itu akan diadakan di Jakarta yah" jelas Zara. "Dengan siapa kamu kesana?" "Sama bu Retno yah, uang pendaftaran, transport sama makan juga sudah ditanggung sama sekolah, jadi ayah ga perlu khawatir" ucap Zara. "Ayah, pasti doakan kamu, semoga kamu berhasil ya. Tapi ingat, kalau kamu belum berhasil kamu tidak boleh putus asa. Harus tetap semangat!" tegas ayah kepada Zara. "Iya ayah, Zara janji, Zara pasti selalu ingat kata-kata ayah barusan"

3 minggu kemudian. . .
Zara terlihat sangat tegang ketikan ingin pergi dari rumahnya. "Zara, ayo semangat! kamu harus optimis, kamu pasti bisa" ucap ayah menyemangati Zara. "Iya yah, ayah yakin ga mau ikut ke Jakarta?" tanya Zara. "Tidak perlu, ayah cukup menyemangati kamu dari sini aja, soalnya ayah harus tetap berjualan untuk kebutuhan kamu juga" jelas ayah. "Ya udah kalau begitu, Zara pergi dulu ya yah, ayah hati-hati di rumah" ucap Zara sesaat meninggalkan rumah. "Iya, kamu juga hati-hati ya di sana, jangan lupa sholat" pesan ayah. "Assalamualaikum yah" ucap Zara sambil mencium tangan ayahnya. Waalaikumsalam, hati-hati ya nak"

Sesampainya di sekolah, tidak lama Zara menaiki mobil pak Yono kepala sekolahnya, dan langsung pergi ke jakarta.
"Zara, semangat ya" ucap bu Retno sebelum Zara memulai perlombaan. "iya bu, terimakasih"

Perlombaan sudah selesai, dan pengumuman pemenang pun akan segera diumumkan. Zara memang tidak mendapatkan juara satu, dia mendapat juara tiga, namun dari pihak panitia ada yang menawarkannya masuk unversitas di Inggris dengan jalur prestasi. Tanpa berpikir panjang, Zara menerima tawaran itu. Karena hal itulah yang diinginkannya selama ini.

Hari ini Zara akan pulang ke rumahnya dengan membawa kabar gembira untuk sang ayah.
Zara teus berjalan memasuki pedesaan menuju rumahnya. Zara memang membawa kabar gembira, tetapi entah mengapa perasaan tidak enak menghampiri dirinya begitu dia melihat ramai-ramai di rumahnya.
"Pak, kenapa ini kok rame ya? ada apa?" tanya Zara kepada salah seorang bapak-bapak yang ada di depan rumahnya. "Emm itu Zara, bapa kamu. . . tadi kecelakaan di pasar, beliau meninggal" "Hah. . . ga mungkin ayah meninggal, ayah belum mendengar kabar baik ini" tangis Zara pun pecah, dia berlari ke dalam rumah, dan benar, dia melihat ayahnya sudah terbujur kaku. "Ayaaah, ayah ga boleh pergi, Zara udah ga punya siapa-siapa lagi, Zara ga mau ayah pergi yaaah, ayah belum lihat Zara jadi sarjana" ucap Zara sambil terus menangis melihat ayahnya yang kini sudah tidak bernyawa lagi.
Tiba-tiba ada seorang ibu-ibu menghampiri Zara dia adalah bu Marni tetangga Zara. "Zara, sudah ya yang sabar, kamu harus ihklas kan kepergian ayah kamu. Dan ini ayah kamu menitipkan surat ini sama ibu" ucap bu Marni sambil memberikan surat yang dibawanya. Dibacanya surat itu yang berisi.

Zara, maafkan ayah kalau ayah tidak bisa menuruti keinginanmu untuk kuliah di luar negeri
Tapi ayah yakin, pasti kamu bisa menuruti kemauanmu itu dengan usaha kamu sendiri
Ayah memang bukan orang sukses, tapi ayah ga mau kalau lihat anak ayah yang cantik ini seperti ayah
Kamu ga boleh kaya ayah, kamu harus bisa menjadi orang yang dikenal dunia, orang yang sukses
Ayah yakin kamu bisa melakukan itu
Zara, maafin ayah kalau ayah pernah berbuat salah sama kamu, tapi ayah lakukan itu untuk kebaikan kamu
Hari ini ayah merasa lelah sekali, rasanya Allah sudah mengharapkan ayah untuk beristirahat dengan tenang
Sekali lagi, maaf kan ayah kalau ayah ga bisa membahagiakan kamu

6 tahun kemudian. . .
Kini Zara sudah menjadi orang yang sukses, dan dikenal banyak orang atas kesuksesannya
ayah ini hadiah untuk ayah di surga, ayah. . . aku untuk ayah :)
Love you Ayah

2 komentar:

  1. shania: HUAAAAAAAAAAAAAAAAAAA hiks sedih banget. kenapa ayahnya mesti meninggal??aku jadi nangis nih

    BalasHapus