Selasa, 27 Maret 2012

Ada Hantu


Pagi ini aku akan pergi ke suatu desa di kota Bandung, namaku Hanna aku adalah seorang penulis cerpen di salah satu majalah, aku adalah spesialis penulis horor, cerita yang aku karang selalu berbau mistis atau menyeramkan.
Kali ini aku akan mengambil cerita dari salah satu desa yang berada di kota Bandung, untuk menyempurnakan karyaku, aku akan meliput keadaan yang sebenarnya di desa itu. Ditemani oleh ke dua temanku Lia dan Ghina aku melakukan peliputan cerita itu di tempat kejadian.
Menurut masyarakat sekitar ada satu pohon mistis yang berada di desa itu, di balik pohon itu ada sebuah sumur tua yang sudah tidak terawat lagi. Kabarnya, dulu di samping pohon itu ada sebuah rumah yang dihuni oleh satu kepala keluarga, namun suatu ketika ada seseorang yang membantai keluarga itu dan merusak habis rumah itu, dan kini yang tersisa hanyalah sumur tua itu. Merasa penasaran aku mendatangi langsung pohon mistis itu, ternyata benar dibalik pohon itu ada sebuah sumur tua, tempat ini memang menyeramkan, tepatnya berada di ujung jalan yang gelap dan dekat dengan TPU. Saat aku tiba ditempat itu bulu kuduk-ku berdiri rasanya penghuni tempat itu tidak terima aku berada di sana.
“Neng Kalau eneng merasa merinding, mending eneng izin dulu sama penghuni tempat ini” Ucap abah Mulya, seorang kakek tua yang menemaniku dan teman-teman ku selama kami berada di desa ini.
“Oh iya bah, kayaknya gitu deh bah” Jawabku dengan nada suara yang gugup dan gemetar.
Penghuni yang dimaksud abah Mulya adalah Sari, Sari adalah seorang anak yang menjadi korban pembantaian itu, menurut abah Mulya, Sari adalah hantu yang paling sensitif, karena dia sering sekali mengganggu orang. Seperti menangis di tengah malam, terbang di atas atap rumah warga, bahkan sampai menemani tidur salah satu warga di desa ini. Akupun sampai merinding mendengar cerita abah Mulya.
“Bah kayaknya ini udah mau maghrib deh bah, gimana kalau kita pulang dulu, dan kita lanjutkan besok pagi” Ucap Lia kepada Abah Mulya, yang memang pada saat itu hari sudah mulai senja.
“Kalau kalian benar-benar mau cerita yang terjadi pada pohon ini, kalian memang harus datang pada waktu seperti ini” Ucap abah Mulya yang agak mengagetkan.
Aku agak sedikit tidak mengerti dengan perkataan abah Mulya, namun karena kami masih asing dengan lingkungan ini dengan terpaksa aku dan teman-temanku mengikuti ucapannya.
Hari sudah mulai malam, dari tadi aku, Lia, dan Ghina hanya memperhatikan tingkah laku abah Mulya yang aneh, abah hanya berdiam diri di pinggir sumur sambil menatap ke arah kami dengan tatapan yang tajam, suatu ketika Ghina merasa ingin buang air kecil dan aku berkata bagaimana kalau Ghina buang air di sumur itu saja lagipula sumur itu masih ada airnya, namun abah melarangnya katanya kalau Ghina buang air di sumur itu maka bahaya akan menghampirinya.
“Neng abah mau ke warung dulu ya, abah mau beli rokok” Kata abah Mulya sambil beranjak pergi.
“Oh iya bah, jangan lama-lama ya bah, kita takut d isini” Ucapku kepada abah Mulya.
Setelah kepergian abah Mulya, Ghina nekad untuk buang air di sumur itu, karena Ghina sudah tidak kuat untuk menahannya.
“Tadi gue buang air kecil di situ, ngga kenapa-kenapa tuh Han” Ucap Ghina kepadaku.
Aku menatap mata Ghina, dan tersenyum kecil padanya, sepertinya Lia sudah tidak tahan berada di tempat ini, karena dari tadi tidak ada tanda-tanda apapun dengan apa yang diceritakan abah Mulya.
Namun beberapa saat kemudian, angin bertiup kencang, suasana menjadi aneh, aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Lia dan Ghina bertingkah laku aneh, matanya menatap tajam mataku seperti apa yang tadi dilakukan abah Mulya, tatapannya kosong namun seperti menyampaikan sesutu yang tidak aku mengerti apa maksud tatapan itu. Aku memangil-manggil Lia dan Ghina namun mereka tidak menjawab, lalu aku mendengar rintihan anak kecil dari ujung jalan yang berada dekat jurang, dengan rasa penasaran aku menghampiri sumber bunyi suara itu. Namun samar-samar suara itu hilang dan tiba-tiba...
AAAAAARRRRGGGGGHHHHHHH..........
“Han lo kenapa?”
“Lia...?”
Ternyata Lia menyentuh pundakku,
“Lia...Ghina mana?” Tanyaku padanya.
“Oh iya, Ghina mana ya, tadi gue abis dari warung, tapi disana ngga ada abah Mulya” Ucapnya.
“Hah warung, bukannya daritadi lo duduk bareng gue di deket pohon itu?” Tanyaku pada Lia.
“Ya ampun Hanna, tadikan gue nyusul abah ke warung tapi abahnya ngga ada”
Aku semakin aneh dengan penjelasan Lia barusan, jelas-jelas tadi Lia dan Ghina menatapku dengan tatapan tajam, tapi tadi Lia bilang dia pergi ke warung untuk menyusul abah dan seketika Ghina menghilang, ya Ghina tidak ada.
 Aku dan Lia segera pergi ke warung untuk menanyakannya pada abah Mulya, menurut cerita dari Lia, abah Mulya tidak ada di warung, tapi kemana abah Mulya pergi dan mengapa abah Mulya pergi.
õõõ
“Permisi bu” Ucapku kepada ibu-ibu setengah baya yang berada di warung.
Ibu itu membalas sapaanku dengan senyuman yang dingin, semakin aku perhatikan sepertinya tatapan ibu itu sama seperti tatapan abah Mulya dan teman-temanku tadi. Rasanya aneh, apakah semua orang di desa ini memiliki tatapan yang tajam dan misterius, tapi kenapa Lia dan Ghina-pun melakukannya.
“Bu, ibu kenal sama abah Mulya?” Tanyaku pada ibu penjaga warung itu.
Sejenak ibu itu terdiam dan berkata, “Abah Mulya...?”
“Iya, ibu kenal?” Lanjut Lia.
Belum sempat ibu itu menjawab tiba-tiba seorang lelaki yang sepertinya berusia 40 tahun datang, dan berkata, “Sepertinya saya belum pernah melihat kalian berdua, kalian bukan warga desa sini ya”
“Iya pak, kita datang dari Jakarta” Jawabku.
“Oh dari Jakarta pantesan saya ngga pernah liat kalian”
Tiba-tiba ibu penjual warung itu berbisik kepada bapak itu, aku tidak tau apa yang dibicarakannya, tapi sepertinya berkaitan denganku dan Lia. Oh iya aku lupa akan keberadaan Ghina, aku pergi ke warung ini untuk bertemu abah Mulya dan menanyakan soal Ghina.
“Neng, eneng kenal sama abah Mulya?” Tanya bapak itu seketika.
“Iya pak, dari tadi siang, abah Mulya yang nemenin kita di desa ini” Ucapku menjawab pertanyaan bapak itu.
“Apa? Abah Mulya yang jalannya agak bongkok dan memakai tongkat itu?” Ucap bapak itu kembali bertanya padaku.
“Iii...iya pak” Jawabku agak sedikit gemetar, karena nada bicara bapak itu sangat aneh, dan menegangkan.
“Yaampun, atuh tujuan eneng-eneng kesini tuh apa?”
“Jadi saya itu kesini mau mencari kebenaran cerita mistis tentang pohon di ujung jalan sana pak” Jawabku menjelaskan.
“Pantesan...” Ucap bapak itu.
“Hah...? pantesan kenapa pak?” Tanyaku agak sedikit tidak mengerti.
“Jadi begini neng, dulunya di ujung jalan sana itu ada satu rumah, dan keluarga pemilik rumah itu dibantai oleh musuh keluarga itu, semua keluarganya meninggal tanpa terkecuali, anaknya Sari dikubur di dekat sumur itu dan sekarang ada pohon besar disana. Dan katanya ibunya dibuang ke jurang di belakang TPU, dan bapaknya abah Mulya dibuang ke sumur tua yang ada disana”
“APA ABAH MULYA...????” Sontak aku terkejut mendengar nama abah Mulya, dan Ghina, ya Ghina bagaimana nasib Ghina...?
õõõ
Tak henti-hentinya aku menangis di depan pemakaman Ghina, kepergian Ghina pasti karena ide konyolku untuk pergi ke tempat seperti desa itu, menurut warga disana Ghina meninggal karena alm.Abah Mulya tidak terima Ghina mengganggu dia, ya Ghina buang air kecil di sumur itu, sumur yang menjadi tempat pembuangan mayat abah Mulya. Kini semua korban termasuk keluarga abah Mulya telah dimakamkan di tempat yang layak, agar mereka tenang di alam sana, dan kini aku telah tidak lagi menulis cerita horor, ini adalah cerita horor yang terakhir aku buat. Maafkan aku Ghina semoga arwah kamu tenang di alam sana. Hanna :’)

Puisi Cinta :)


cinta itu indah
seperti kamu yang selalu indah
cinta itu sulit untuk dilupakan
seperti kamu yang tidak mudah untuk dilupakan
cinta juga sulit untuk dimiliki
seperti kamu yang sulit untuk aku miliki
cinta tidak gampang untuk ditebak
seperti kamu yang memiliki seribu teka-teki
cinta bagaikan pelangi
seperti kamu yang selalu memberi warna-warna indah dalam hidupku
cinta bagaikan mentari
seperti kamu yang selalu menyinari hatiku
cinta adalah kamu
dan kamu adalah cintaku

Supir Bemo Minum Es Doger di Bawah Tiang

Prolog
Di sebuah sekolah yang cukup berkualitas baik, terdapat 3 orang sahabat yang memiliki persoalan asmara yang kurang baik. Mereka adalah Alisa dan sepasang anak kembar  Melsa dan Melsy. Ketiganya sudah bersahabat sejak duduk di kelas 7 SMP. Namun hingga mereka bertiga menjadi cewe remaja, mereka bertiga gak pernah yang namanya merasakan indahnya “pacaran”. Menurut mereka beromantisan dengan seorang cowo, adalah hal yang paling menjijikan. Tapi di sisi lain mereka bertiga pernah merasakan betapa indahnya jatuh cinta.
Dibandingkan teman-teman cewe seusianya yang kalau sedang ngumpul-ngumpul bareng senengnya ngomongin cowo. Alisa, Melsa, dan Melsy lebih suka membicarakan hal-hal yang gak bermutu atau bisa dibilang mereka lebih suka bercanda. Mereka lebih memilih bercanda ketimbang ngegosip soal cowo ganteng, keren, cool dan sebagainya. Dari pada ngegosip soal cowo, mereka lebih suka ngomongin guru-guru yang kocak disekolahnya atau ngebahas acara di tv yang baru mereka tonton semalam.
Tapi bukan berarti mereka gak suka cowo. Mungkin sesekali mereka membahas cowo yang dikaguminya. Tapi mereka juga gak ngomongin cowo itu dengan histeris. Seperti hobi mereka, mereka malah menjadikannya bahan bercandaan. Seperi misalnya, Alisa yang mengagumi ade kelas yang bibirnya sedikit agak dower, dengan begitu mereka menjuluki ade kelas itu dengan sebutan “Es Doger” plesetan dari dower. Melsa yang mengagumi kakak kelas berkulit hitam dan bertubuh tinggi, dan mereka sering memanggil kakak kelas itu “Katem” alias kakak item atau julukan terbarunya adalah “Tiang” karena tubuhnya yang tinggi. Sedangkan Melsy, yang mengagumi teman seangkatannya, mereka memberi julukan cowo itu “Bemo” hem... bemo? Gak tau kenapa mereka kasih julukan itu, alasannya simple karena kalau mereka lagi ngomongin dia dipikiran mereka terlintas pada kendaraan yang hampir punah itu. Mungkin karena muka dia yang yang kaya orang purba.


 Jujur Berani
                                        Alisa, Melsa, dan Melsy sedang bermain “Jujur Berani” permainan itulah yang sering mereka lakukan untuk mengisi waktu istirahat mereka.
                                        Yap, botol yang diputar Melsa berhenti tepat di depan Melsy. Itu berarti Melsy harus mejawab semua pertanyaan Alisa dan Melsa dengan jujur atau melakukan tindakan-tindakan anarkis yang diberikan kedua temannya. Emm, bukan tindakan anarkis melainkan tindakan yang bisa mempengaruhi kestabilan jiwanya alias memalukan, karena harus dilakukan di depan umum.
                                        “Nahhh, ayo mel jujur apa beraniiii?” tanya Alisa dengan mata penuh rencana.
“Jujur deh, tapi jangan yang aneh-aneh loh nanyanya” jawab Melsy pasrah.
 “Iyaaa!!” jawab Alisa dan Melsa serempak.
“Menurut kamu si BEMO ganteng apa nggak?” Tanya Alisa dengan sengaja mengeraskan suaranya dibagian kata “bemo”.
“Naaahhh, jujur yaa!” tindas Melsa.
“Emm, biasa aja” jawab Melsy datar dengan muka polos sedikit bloon.
“Halah, boong. Udah ngaku aja, ganteng apa cakep” usil Alisa.
Dengan keceplosan Melsy menjawab “Iya cakep” seketika muka Melsy berubah merah. “Eh, nggak! Maksudnya nggak cakep. Gituuu!” lanjutnya setelah sadar kata-kata sebelumnya.
“Ih, apaan tadi bilang cakep!” tegas Melsa.
“Tau nih Melsy, nggak konsisten! Hahaha” ucap Alisa iseng, sambil tertawa jahil.
Tiba-tiba...
“Melsa, liat deh kearah jam 1” kata Alisa tiba-tiba membuyarkan semuanya.
Ternya ada ka Ray, alias tiang. Cowok yang dikagumi Melsa.
“Ekhem..khem ciye Melsa jadi salah tingkah gitu” Melsy yang kali ini balik menjahili Melsa.
“Apaan sih lu dasar bemo” timpal Melsa dengan sedikit masih salah tingkah. “Udah ah lanjutin mainnya” lanjut Melsa menghiraukan kedua orang yang ada disampingnya.
“Jadi jawabannya apa nih ganteng apa cakep?” tanya Alisa kembali ke masalah Melsy.
“Ih, yaudah deh iya. Agak ganteng sih tapi ga ganteng-ganteng banget” jawab Melsy jelas.
“Oke, nah gitu dong cepet” jawab Melsa.
Lalu setelah seksi Melsy selesai, Alisa menawarkan diri untuk memutar botol “Sini-sini sekarang aku yang muter botolnya”.
Daaan botol berhenti di depan sang pemutar. Itu berarti sekarang giliran Alisa.
“Yah, kok malah aku sendiri yang kena ah ga asik” keluh Alisa.
“Jujur apa Berani?” tanya Melsa dan Melsy.
Tiba-tiba ada ade kelas jbjb dari arah belakang, “Berani” ucapnya seketika berlalu pergi. Ternyata itu adalah Aga alias si “Doger”.
“Ahahah, adeuh Alisa. Udah Al berani aja, udah dapetin usul dari si doger tuh” kata Melsa sambil ketawa geli.
“Ehhh, apa sih lo alay banget” jawab Alisa dengan muka memerah.
“Idih Alisa, keliatan banget tuh mukanya merah” timpal Melsy.
“Ih, apaan sih! ya udah deh bukan karena dia loh ya tapinya aku milih berani, tapi emang aku pengen milih berani aja!” ucap Alisa akhirnya.
“Ah, udah bilang aja kalau gara-gara si doger” usil Melsy.
“Ihh, nggaak! Udah apa ih cepet, nanti keburu bel loh” kata Alisa, dengan tampang sok bete tapi bibir ga berhenti senyam-senyum.
“Kamu masuk ke kelasnya si doger, terus bilang I’m sweet corn yang keras” tantang Melsa.
“Ih, ga mau Melsa. Jangan gitu-gitu banget ih” bantah Alisa.
“Ahahahah, ga mau harus itu” tegas Melsy.
Dengan terpaksa, Alisa akhirnya melakukan tindakan anarkisnya itu. Dengan cara perlahan masuk ke ruang kelas Raffa lalu dengan bodohnya dia bilang “I’m sweet corn” dengan bibir sok eksotis. Sontak ade-ade kelas di kelas Raffa ketawa geli melihat tingkah laku kakak kelasnya. Setelah itu Alisa lari ke luar kelas itu ke tempat Melsa dan Melsy berada.
“Ahahahahah” Melsa dan Melsy ketawa puas, melihat kelakuan temennya itu yang super berani.
“Ihhh, Melsa! Melsy! Malu banget tau tadi pada ketawa semua” keluh Alisa setelah menyadari perbuatan yang baru saja dilakukannya.
“Hahahaha sumpah, berani banget kamu Al! Mau-maunya” kata Melsy sambil tertawa terbahak-bahak diikutu suara ketawa Melsa.
“Ish, udah ah sekarang giliran Melsa ni” kata Alisa, mengalihkan pembicaraan.
“Ah, iya jujur apa berani?” ucap Melsy masih ketawa karena kejadian barusan.
“Emm apa yah?” kata Melsa menahan ketawa.
“Apa sih lo berdua! Alay banget, ga pernah liat cewe cantik ya?” balas Alisa kepedean.
“Idih, apaan sih Al. Udah ah jujur aja, nanti kaya Alisa lagi hahaha” jawab Melsa.
“Ya udah. Jujur ya apa yang kamu suka dari si katem” tanya Alisa.
“Emm, banyaklah itemnya aku suka, mukanya aku suka, orangnya aku suka!” jawab Melsa santai.
“Ah, nggak selain itu” lanjut Alisa membantah jawaban Melsa.
“Apaaa yaaa....” pikir Melsa panjang.
Kringgg....kriingggg.... bel berbunyi. Itu berarti permainan pun berakhir.
“Udah bel, udah ya” kata Melsa senang karena belum sempat menjawab jujur petanyaan.
“Ih, curang banget! Ga bisa pokoknya!” bantah Alisa kesal.
“Orang udah bel hahah” jawab Melsa kegirangan.
“Ya udah, berarti besok giliran lu Mel” timpal Melsy.
Begitulah istirahat hari ini yang bisa mereka bertiga isi. Tapi tiba-tiba... ceritanya abis dan belum ada lagi lanjutannya.

first post

Mella: hallo aku mella lahir di kota bogor tanggal 27 maret tahun 1998, suka warna item, pokoknya yang item-item aku suka hehe
Melly: ini melly kembarannya mella, suka banget sama bemo soalnya unik hehehe
Shania: hallo  semua. jangan lupa baca-baca isi blognya. Aku lahir di Jakarta, 20 Desember 1998
Lidya: hallo!!!!!! ini yang terakhir! wehehehe aku Lidya, lahir tanggal 12 februari 1998. aku terlahir sebagai pacar greyson! wahahaha karena aku enchancer!!
welcome to our blog! jangan bosen-bosen masuk ke blog ini ya! blog ini bakal ngepost postingan yang seru, asik, dan trend topic! dan cerita-cerita seru tentang kita :D